13 Zulhijjah 1432 / 9 November 2011

Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya untuk Allah. Tuhan sekalian alam.

Warna warni Aidiladha.

Hari-hari dapat jemputan rumah terbuka.. Yang mana terlarat, sempatlah singgah. Adapun kalau yang tidak terjemput, tidak perlu malu-malu. Inikan hari raya. Datanglah kerna ukhuwwah, makan tu no.2 kan. Usahlah terlalu ekslusif. Perlu undangan istimewa.

Sudahlah rumah yang ada semakin bertambah. Nama adik-adik pun ingat-ingat lupa. Ada yang ketemu selalu, maka lekatlah panggilan mereka itu di dalam minda. Namun, itu bukan alasan untuk tidak bertandang. Kesempatan 'Eid dan cuti seharusnya dimanfaatkan sebaiknya.

Rugilah andai seMu'tah pun tidak kenal, sedangkan Ikhwah Akhawat dari Irbid dan Mafraq sanggup turun balik kampung beraya mengecas bateri ukhuwwah. Sayang seribu kali sayang.


Aidiladha ini terlalu banyak erti dan ibrahnya. Semestinya bagi sesiapa yang rajin sedikit untuk berfikir, berzikir, memutar fikiran, maka dapatlah apa yang tersirat. Alangkah ruginya, kalau semata dikongsi suka ria.

Cuti-cuti Jordan sempena Aidiladha.

Apa yang sinonim dengan hari raya yang baru kita lalui beberapa hari yang lalu?

Sembelih, Korban, atau apa sahaja.. Saya ambil satu. Korban-Berkorban = Tadhiyah.

Sifirnya untuk ukhuwwah mudah sahaja.


Kasih sayang + Tadhiyah = Ukhuwwah Fillah yang sangat mantap.


Bila mana ukhuwwah Islamiyah sesama kita sudah mantap, itulah kunci kekuatan kita, ditakuti pihak musuh yang sentiasa mencari ruang, menyalakan batu api hingga hancur kesatuan. Jika tidak, umat Islam juga yang akan rugi dan semakin lemah.

Gembira sendiri? Percayalah, anda takkan mampu hidup, walaupun sehari.

Mari kita sama-sama hayati salah satu surah di dalam Al-Quran yang banyak menukilkan tentang konsep adab dan ukhuwwah sebagai seorang Muslim.


Surah Al-Hujurat


Di dalam surah ini Allah SWT memaparkan 7 tips yang sangat ampuh bagi kita melawan virus-virus yang boleh menghancurkan ukhuwwah yang telah dibina.

Jom kita kaji dan hayati.

Tips 1  : Tabayyun

Tabayyun bererti mencari kejelasan informasi dan mencari bukti kebenaran informasi yang diterima. Allah SWT berfirman:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةٍ۬ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS 49:6)

Tips 2  : ‘Adam as-Sukhriyyah

Ertinya tidak memperolok-olokkan orang atau kelompok lain. 
Firman Allah SWT:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٌ۬ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرً۬ا مِّنۡہُمۡ وَلَا نِسَآءٌ۬ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرً۬ا مِّنۡہُنَّ‌ۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَـٰبِ‌ۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَـٰنِ‌ۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ 


"Wahai orang-orang yang beriman janganlah satu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan)." (QS 49:11)

Barangkali saat ini kita mengetahui terdapat banyak kelompok atau organisasi dakwah. Oleh itu, haruslah kita menyedari bahawa di antara organisasi dakwah tersebut mungkin terdapat perbezaan pada prinsip mahupun yang tidak berkaitan dengan prinsip. Perbezaan dalam menentukan al-hadaful a’la (sasaran tertinggi) juga termasuk dalam masalah prinsip.

Situasi ini memancing suasana tanafus (persaingan) yang kadang-kadang bentuknya tidak sihat. Persaingan ini akan semakin tidak sihat dengan tampilnya figur yang senang melontarkan ungkapan-ungkapan yang mungkin bernada cemuhan dan persaingan.

Berhimpunnya oragnisasi dakwah dan harakah yang ada di bumi sekarang ini adalah suatu mimpi indah. Sebagaimana yang ditulis DR. Yusuf Qaradhawi, maka kesatuan wala’ dan tumbuhnya suasana ta’awun dalam menghadapi konspirasi para thaghut adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan lagi. Namun begitu, hal ini belum lagi dapat diwujudkan lantaran ada beberapa hal yang belum mampu untuk kita lakukan. Oleh itu, maka tidak mampukah kita sekurang-kurangnya meninggalkan tradisi sukhriyyah dan perasaan ana khairun minhu (saya lebih baik daripadanya) seperti yang dinyatakan iblis???

Tips 3 : ‘Adam al-Lamz

Maksudnya tidak mencela orang lain. Ini ditegaskan dengan firmanNya:


وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ

"Dan janganlah kamu mencela diri sendiri’. 

Mencela sesama muslim, oleh ayat ini dianggap mencela diri sendiri, sebab pada hakikatnya kaum muslimin dianggap satu kesatuan. Apatah lagi jika celaan itu adalah masalah status dan standard kebendaan. Allah sendiri menyuruh Rasul dan orang-orang yang mengikutinya untuk bersabar atas segala kekurangan orang-orang mukmin.
وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّہُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُ ۥ‌ۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡہُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُ ۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَٮٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُ ۥ فُرُطً۬ا 
   
Dan jadikanlah dirimu sentiasa berdamping rapat dengan orang-orang yang beribadat kepada Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang, yang mengharapkan keredaan Allah semata-mata dan janganlah engkau memalingkan pandanganmu daripada mereka hanya kerana engkau mahukan kesenangan hidup di dunia dan janganlah engkau mematuhi orang yang Kami ketahui hatinya lalai daripada mengingati dan mematuhi pengajaran Kami di dalam Al-Quran, serta dia menurut hawa nafsunya dan tingkah-lakunya pula adalah melampaui kebenaran.( QS, 18:28). 

Tips 4 : Taraka at-Tanabuz 

Iaitu meninggalkan panggilan dengan sebutan-sebutan yang tidak baik terhadap sesama muslim. Ini berdasarkan firman Allah s.w.t :

وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَـٰبِ‌ۖ

"Dan janganlah kamu saling memanggil dengan sebutan-sebutan (yang buruk)." (QS 49:11)

Tanabuz
dalam bentuk yang paling parah adalah berupa pengkafiran terhadap orang yang beriman. Pada kenyataannya masih saja ada orang atau kelompok yang dengan begitu mudahnya menyebut kafir kepada orang yang tidak tertarik untuk masuk ke dalam kelompok tersebut.

Tips 5 : Menjauhi prasangka

Allah s.w.t berfirman: 
 يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬‌ۖ

"Wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa." (QS 49:12)

Dasarnya seorang muslim harus berbaik sangka terhadap sesama mereka, kecuali jika ada bukti yang jelas tentang kesalahan tersebut. Juga sebaliknya, kepada orang kafir dan musuh Islam, kaum muslimin harus menaruh curiga apabila mereka bermanis budi. Allah s.w.t sendiri menegaskan:
"Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan harta-harta mereka untuk mengahalangi manusia dari jalan Allah." (QS 8:36) 
Tips 6 : 'Adamut Tajassus

‘Adamut Tajassus adalah tidak mencari-cari kesalahan dan aurat orang lain. Perbuatan ini amat dicela Islam. Allah s.w.t amat suka bila kita berusaha menutup aib saudara kita sendiri. Firman Allah :

...  وَلَا تَجَسَّسُواْ
" Dan janganlah kamu sekalian mencari-cari kesalahan (dan aurat) orang lain." (QS 49:12)

Tips 7 : Menjauhi Ghibah 
 

Allah s.w.t menegaskan:


وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًا‌ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُڪُمۡ أَن يَأۡڪُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتً۬ا فَكَرِهۡتُمُوهُ‌ۚ
"Dan janganlah kamu sekalian menggunjing sebagian lain.Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?…"

Ghibah sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah s.a.w adalah menceritakan keburukan dan kejelekan orang lain. Ketika seseorang menceritakan keburukan orang lain, maka terdapat dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, jika yang diceritakannya benar-benar terjadi maka itulah ghibah. Kedua, jika yang diceritakannya itu tidak terjadi berarti ia telah memfitnah orang lain.

Begitu besarnya dosa ghibah, sampai Allah SWT menyamakan orang yang melakukannya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri.

........................

Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah..

Mudah-mudahan kita diberikan keringanan untuk melaksanakannya, dan berusaha sedaya upaya mengaplikasikannya dalam kehidupan seharian.

Manfaatnya?
Berbalik kepada kita. Insyaallah, pahala kita dapat, ikatan pun makin terjalin erat.

Salam ukhuwwah fillah!

Rujukan : Islah.net


0 ulasan: