28 Disember 2010

Salam Imtihan Nihai.. Sekadar perkongsian dari emel seorang teman. Mudah-mudahan bisa melenturkan serba sedikit kegelisahan yang melanda.

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Kerana terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemanakah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu?

Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu diperhatikannya dengan saksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.

Ditemuinya kembali rerumputan dan lalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei….semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak lebih indah.

Rerumputan dan lalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.

Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda.

Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika dilihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

***

Sahabat, begitulah hidup. Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.

Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni.

Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, lalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Sahabat, coba, susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita.

Adakah kebahagiaan yang terlupakan? Adakah keindahan yang tersembunyi dan alpa kita nikmati? Kenanglah ingatan-ingatan lalu. Susuri dengan perlahan. Temukan keindahan itu!!

* Sumber asal artikel dalam bahasa Indonesia..

* Jangan lepas doa dan putus harap padaNya.. Itu lebih utama..

27 Disember 2010




1. Buat makluman semua sahabat KMKJ seMu'tah, mohon maaf atas perubahan tarikh yang terpaksa dibuat. Berikut maklumat baru mengenai program yang bakal diadakan;

Tarikh : 27 Disember 2010
Masa : Selepas Isyak
Tempat : PUKSMA, Mu'tah
( Makluman dalam iklan asal mohon diabaikan )

2. Permohonan bagi Dana Kijang Emas telah dibuka bermula hari ini ( 26/12/2010) sehingga 6 Januari 2011. Mohon sahabat-sahabat , usah jemu untuk menyampaikan kepada sahabat yang benar-benar memerlukan. Maklumat lanjut : klik sini

27 Disember 2010

Melangkah hari-hari terakhir di tahun 2010 ini, buat saya berfikir..

Meninjau prestasi, membandingkan keadaan diri setelah sekian kalinya..

Pertama, blog yang saya jadikan tasyji' ini nampak semakin bersawang.. Berbanding tahun lepas, prestasi sedikit menurun. Tidak mencapai target yang diinginkan. Adakah ini kayu ukuran pada mutu diri?

Kedua, mutu ilmu, fikrah dan sikap?

Melewati usia awal 20-an, semestinya banyak peristiwa yang berlaku mencorakkan biah, pemikiran dan sikap.. Alangkah ruginya juga andai dalam tempoh ini, tidak banyak mutiara hikmah yang berjaya dikaut.. Semestinya tahap penguasaan perlu lebih terkehadapan berbanding sebelumnya..

Apa isu yang membelenggu hari ini?

Melilau di sisi masyarakat yang ditinggalkan lewat di balik tabloid konspirasi, picisan juga ilmiah meledakkan rasa gundah dengan mutu ilmu, fikrah dan sikap.

Ketiga, bagaimana pula diri ini mampu memberi untuk orang lain?

Tahun pertama dan kedua bukan tahun bulan madu.. Apatah darah manis remaja, merasakan semua perkara yang menggembirakan harus dikecapi sepenuhnya. Andai diberi kepercayaan, buat membimbing yang lain, perlukah sahaja menolak.. Terasa masih belum dapat memberi seperti yang diharapkan. Amanah mendidik, mencetak jundi Islam bukan sesenang mencetak setem sebelum ditampal disampul surat, tapi perlu disemai sejak dari benih. Dibaja, dibelai, diberi kasih sayang, baru ia kan tumbuh sempurna seperti diharapkan.. Namun perlu sedar, usaha bukan asbab untuk hidayah.

Sayang sekali andai ilmu yang diperoleh tidak dimanfaat sepenuhnya. Sayang juga andai kemantapan intelektual dan pengurusan tidak disalurkan dengan baik mengikut saluran yang sebetulnya.

Sebetulnya saya sedikit kesal andai semua wasilah dan asbab ini telah ditukar fungsinya menjadi tujuan. Tidak dinafikan, usaha ke arah kemantapan, keutuhan ia memerlukan satu energi yang keras, tidak jemu dan bersungguh-sungguh. Namun, wajarkah kita berlumba-lumba menaikkan semua wasilah sampai melupakan tujuan utama sesuatu wasilah itu dititipkan. Sampai sekali menyuntik virus permusuhan yang menjadi duri dalam daging, yang akhirnya membawa kehancuran kepada satu kesepakatan dan kesefahaman antara kita selama ini.

Sudah berapa banyak manusia yang hancur dek ketaksuban pada wasilah..

Terasa risau, andai diri memandang sebelah mata sahaja, apa yang boleh diharap dari kata-kata. Mohon Tuhan jauhkan dari :


Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. ( As-s0ff : 2-3 )


Menilai kembali

Memintal tali menjejaki nilai harga sesuatu perbuatan yang telah dilakukan sememangnya harus kita jadikan rutin. Manusia mana yang tidak belajar dari perkara lepas. Ya, sejarah diri, agama dan bangsa.

Perlu kita nilai kembali segala kejahilan kejadian itu agak kita tidak tega mengulanginya lagi. Namun, dek kerana doktrin belajar hanya mahu untuk lulus, ( atau sememangnya itu la yang diharap ), kurang meneliti tambah mengkaji semula, adakah peristiwa yang tercatit itu benar ada dipahat pada batu-batu artifak, jua ter'resam' pada bahan kitab atau ia semata ciptaan penyedap rasa?

Penyedap rasa, buat mencanai generasi yang taklid semata. Tetaplah kita akan menjadi mahasiswa dungu tiada jati diri seumpama lembu dicucuk hidung.

Moga kita semua bukan dari ini..


* Salam juang buat sahabat seperjuangan yang sentiasa dekat di hati, ukhti Nadhirah atas taklifat di bumi ardul Kinanah sana.. Yakinlah, wasilah yang dititipkanNya bukan hanya semata, pasti ada madu yang Dia mahu kirimkan buat dirimu.. Kuatlah ukhti menghadapinya.. Kami sentiasakan doakan dirimu dan sahabat. Mudahan harapan doa bersulam rindu buat peneguh kalian dan kita dalam mengharungi segala apa jua yang bakal mendatang kelak.

* Doa dari abah dan ma.. Moga bisa ditempuh ujian dunia yang sedikit.. Bittaufiq buat semua dalam mengahadapi wasilah imtihan yang bakal menjenguk.. Mohon doanya Ya!


22 Disember 2010

Sudah 15 hari meniti 1432 H
Tinggal 9 hari sahaja lagi untuk melangkah ke tahun baru 2011..


Sudah 22 Tahun 16 hari , mengecap nafas KasihNya..
3 bulan lagi.. Genaplah usia.. Kurniaan dari Dia..

Lebih kurang 10 hari berbaki, menelaah kitab, menekuni semula kefahaman yang cuba meresapi minda..

Jua, mendepani syitaa' kedua yang semakin mencengkam..

Malam ini, bulan cerah memberi sinar.. Menemani saya dan sahabat pulang dari WISMA.. Mencari sedikit ketenangan di balik pertandingan nasyid dan sajak.. rindu pada alunan syair puisi yang sesekali dilagukan tatkala kesunyian..

Baru semalam dikhabarkan seorang ulama' besar Jordan telah kembali ke Rahmatullah, memberi ingatan, musafir ke sini bukan untuk saja, tapi buat mengilap permata berharga umat..

Juga terimbau segala isu yang mula melata, ketandusan penegak dan pengislah..

Siapa lagi yang mahu kita harapkan? Orang lain.. Masih belum bersedia.. atau mahu mencipta seribu alasan untuk tidak memberi?

Sayang sekali ilmu yang dititipkan kalau begitu.. Ilmu buat menanggung makan pakai sendiri.

Bulan, masih mengambang malam ini,
Mudahan, cahaya itu masih ada esok, juga lusa..
Walau kemilau makin hilang,
Ku tahu, ia mesti kembali..


Lantas kita, sekurang-kurang menjadi bulan kalau tak mampu untuk menjadi mentari..

........................

* Mencari nilai rasa buat mengungkap kata.

9 Disember 2010

Alhamdulillah, so far so good. Sorry, this blog seems not very well, as I say in the title : Healing.. Keep to move and still trying to settle a lot of jobs that had been left before.. Some stories to share :

1) Eid Adha : For The Forth Eid in Jordan

Ukhuwwah fillah abadan..

Yum,yum.. Missing Malaysia..

The late cow.. In memories..

Keep waiting.. Yallah, bi sur'ah

2. Exam's fever : Juhud + Gembira

3. Just a simple surprise party for my birthday... ( Naughty girls, " CUpCaKeS ), thank you..
* Anyway, All of thanks mostly for my mom and dad, nothing can take your place in my heart, nothing can be compared for all of loves and things that you have done for me... Since baby's time until now..
* K.Fatihah, Aisyah and others, no more words to say, Allah only the best to pay all of your attentions for me.




Ya Allah, please keep this love, mahabbah to the end.. Ana uhibukum fillah.. Daaiman abadan-abadan abadan.. Wa arju hatta ilal jannah.. Aamin..

Ya Allah, please keep us to stay in this way, li nasyri da'watul Islam ila 'alam.. wa fi Taatik.. fi rahmatik.. Wahdina ila siratal mustaqim..

* Broken languange... Sory, still learning. More practice will make more perfect, Insyaallah.
Fi amaanillah..

5 November 2010

Jalan itu,
Sekian hari di lalui lagi..

Dia,
Sudah hafal,
Mana satu kerikil,
Mana dia ranting berduri,
Sering menongkah di jalan,
Terkadang terlekat,
Mujur jua bukan ia melukai..

Barangkali,
Keyakinan sudah tertanam,
Hati sudah tetap,
Itulah yang akan dia lalui,
Hari demi hari..

Hari ini,
Pulang di suatu tengah hari,
Melewati jalan itu,
Masih sama..

Jalan, terus berjalan..
Tersadung ia jatuh,

Lantas bangun,
Apakah jalan ini sudah bertambah kematunya
Sudah tebalkah duri yang tumbuh,
Atau ada dahan baru yang jatuh?

Tiada..
Ilusikan semua itu?

Dia lupa,
Terkadang, yakin itu sesekali berkhilaf,
Memakan diri..

* Memaksi keyakinan pada apa yang dibuat. Mahu mencetus mahu, mudahan ini pencetus..

18 Oktober 2010

Kita,
Mampir di bumi nabi dan syuhada'
Membawa seribu cita dan rasa.

Di tanah ini,
Penuh rahsia menutur bicara,
Bukan ilmu pengajian semata perlu digali.

Haruman syuhada' menghembus,
Membisikkan,
Hidup ini satu perjuangan yang takkan putus,
Walau jalan dilalui berbeza rupa dan ketika.

Teman,
Kita bersama untuk memacu harapan,
Menggalas seribu impian,
Membekali diri,
Agar tidak jemu untuk memberi.

Andai wasilah amanah yang tergalas ini,
Mampu kita harungi,
Mudah-mudahan keredaan dariNya pasti kita kan miliki.

Sahabat,
Andai dikau terasa lemah,
Usah risau, usah gentar,
Dirimu bukan sendiri,
Aku masih ada di sisi,
Mereka tetap ada menghulur memberi harapan.

Ya Allah,
Andai wasilah amanah ini,
Yang mendekatkan aku dan kami,
Ke arah Mu,
Ya Rahim, Kau permudahkanlah,
Kuatkanlah cita ini,
Tika tiada lagi kuasa pengubat,
Tatkala kami tersungkur lemah,
Tak berdaya menongkah.

Ya Allah,
Hanya kepadaMu,
Kami serahkan segalanya,
Mudahan redha, tabah dan semangat takkan pergi,
Seiring masa yang tetap berlalu..

* Mudah-mudahan kita mampu, kuat demi syiar Islam yang tercinta.

*AGM KMKJ ke 15 @ 161010.. Harapan dan cita-cita yang menggunung pada saff kali ini. Mohon doa ya sahabat-sahabat. Ada apa-apa, jangan silu mengatur kata. :)


18 Oktober 2010

Alhamdulillah, AGM KMKJ kali ke 15 yang dirancang oleh pimpinan sesi lepas telah pun selesai dan berjalan dengan baik. Satu pengalaman baru sebenarnya. Walaupun, ianya sudah kali kedua berada di tempat itu. ( Dahulu di taklifat dan suasana lain.. dQ @ Perkemat 2007/2008 )

Masih segar kenangan itu, di mana berdepan dengan wajah-wajah huffaz yang berbeza pemikiran dan kefahaman, namun masih sarat dengan harapan tarbiyah. Memang menggerunkan. Sesungguhnya saat itulah sendiri yang banyak mengajar diri ini erti dan nilai kepimpinan dan perjuangan yang sebenar.

Itu cerita lama, diimbas kembali untuk menghirup sedikit kekuatan.

Kini, amanah yang tergalas semakin memberat. Kalau dahulu hanya memikirkan soal lajnah sendiri, dengan pantauan dan sokongan dari teman-teman sekerja, Alhamdulillah, bahtera kecil yang dikemudi mampu dilayarkan, walau tidaklah selaju sahabat-sahabat lain. Walau ketika itu diuji dengan ombak dan dugaan yang mampu mengubah hala, yang hampir ketika itu tak mampu hendak melayarkan semula bahtera kecil itu, syukurlah Allah masih lagi mendengar rayuan dari hati hambaNya yang sangat daif dan lemah.

Sesungguhnya hamba ini hanya mampu mengharapkan inayah dan nusrah dari Yang Maha Mengetahui setiap perjalanan kehidupan hambaNya.

Sekarang, menjadi pembantu nakhoda sebuah kapal besar, yang diharapkan bakal melahirkan anak-anak kapal yang berwawasan dan berkualiti sememangnya memerlukan satu kekuatan dan persediaan yang bukan sedikit. Hakikatnya, diri ini masih terlalu kecil. Masih berusaha dan belajar untuk memahami dan membumikan setiap fikrah dan kefahaman yang ada di kalangan setiap anak kapal. Apatah lagi berpindah ke kapal baru, masih belum fasih sepenuhnya akan bagaimana mahu mengemudi dengan cara terbaik.

Saya masih ingat tangisan sahabat seperjuangan tatkala membaca ayat ini. Menggetarkan hati-hati kami tatkala kedinginan malam mula menyelimuti diri. Menyedarkan membasahi hati yang alpa.


KEZALIMAN DAN KEBODOHAN MANUSIA IALAH MAHU MENERIMA TUGAS, TETAPI TIDAK MELAKSANAKANNYA.

72. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat (1) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khuatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

73. sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

( Al-Ahzab, 72-73 )

Ya, bukan sebarang taklifan. Hatta sekecil-kecil jawatan hinggalah sebesar taklifan khalifah.

Apapun, moga taklifat ini menjadi penyuntik semangat dan motivasi untuk bertatih dalam medan sebenar setelah tamat belajar dan memiliki kehidupan sendiri pada masa akan datang. Jua penduga sejauh mana komitmen kepada pelajaran kita dapat dimaksimakan walaupun sekarang masa kita sudah terbahagi dari terus memfokuskan kehidupan di sini yang hanya belajar dan menelaah kitab.

Ilmu bukan datang bergolek, bukan hanya di dalam kelas, bukan hanya dengan menguliti sumber rujukan, bukan semata dari munaqasyah, Bahkan banyak pula bahan ilmu datang dari pengalaman kehidupan jua dari amanah dan taklifat yang tergalas. Moga diri sentiasa tabah dan kuat.

Namun, keyakinan saya pasti yang saya bukan berjuang berseorangan, saya masih ada teman dan sahabat yang tidak jemu menolak, membantu andai tersungkur mahupun tersalah jalan.

Mudah-mudahan, kita semua mampu memikul amanah ini, bersama untuk mengislahkan sebilangan kecil ummat manusia, juga menjadikan wasilah kepimpinan ini sebagai jalan untuk lebih dekat dan taqarrub kepadaNya..

Ya Allah, perkenankanlah dan permudahkanlah segala urusan kami.

14 Oktober 2010

Alhamdulillah, sedikit kelapangan yang ada harus dimanfaatkan sebaiknya. Betapa kesyukuran kepadaNya atas segala kurniaan.

Masa lapang dan sihat, dua nikmat yang selalu dilupakan oleh manusia.

Nikmat itulah yang selalu menguji sejauh mana kita ini masih ingat padaNya. Bukan waktu terjatuh, kesusahan itu baru terasa mahu dekat denganNya.

Syawal lalu, kelas Al-Quran yang ditawaquf seketika sepanjang Ramadhan kini bersambung. Sahabat-sahabat pun semua dah kembali ke tanah gersang dan tandus Mu'tah. Sambil-sambil angin sejuk musim luruh sepoi-sepoi bertiup sedikit menggigit.

Cukup rindu dengan Ummu Muhallab. Musyrifah wa Anisah wa Sheikhah..

Sudah hampir setahun belajar mentahsinkan bacaan Al-Quran, membetulkan makhraj yang dulunya masih kemelayuan, dan meng'arab'kan lahjah bacaan menggamit seribu penghargaan yang tidak terhingga.

Betapa diri ini kagum dengan semangat murabbi yang ada pada setiap pendidik Al-Quran kami. Jua pada semangat ibu-ibu yang masih tidak segan duduk bersama mentahsinkan bacaan mereka.

Hari ini, kelas berjalan seperti biasa.

Sedang belajar mengulangkaji pelajaran ilmu tajwid, bab makhraj; tiba-tiba Ummu Muhallab mengajukan satu persoalan.

"Kamu datang belajar ke sini, belajar al-Quran di sini, datang jauh dari negara kamu untuk apa?"

Terdiam seketika. Jawapan apa yang mahu keluar ni?

"Nak faham Al-Quran, nak baca dengan betul, bla,bla.... "

Semua tersengih. Tak kurang ada yang tersenyum. Berebut mahu menjawab. ( nak tunjuk pandai cakap arab ke? )

Ummu Muhallab lantas menyambung.

"Bukankah dituntut di dalam solat untuk membaca Al-Quran dengan betul?"

Ahaa, betul tu. Al-Fatihah tu kan wajib dalam solat.

"Juga sebenarnya dituntut kepada kita, umat Muhammad agar membaca Al-Quran sebagaimana lafaz dan bacaan yang diturunkan dari Langit kepada Nabi kita.."

Terfikir. Betul juga. Itu lah hadaf yang sebenar. Selepas itu, barulah perkara lain yang berkaitan akan datang menyusul.

Bagaimana mahu menghayati keindahan, mengagumi i'jaz setiap ayat Al-Quran andai bacaan kita pun masih lagi merangkak-rangkak, masih lagi banyak kelompangan.

Tiada beza antara hamzah, dan ain, qaf juga kaf.. Bagaimana pula hukum tajwid, dari segi izhar dan ghunnah.. Allah!! Banyak lagi yang perlu lagi dibetulkan.

"Dan apa yang penting, bila kamu semua sudah pulang ke tempat asal kamu, menjadi tugas dan kewajipan kepada kamu semua pula untuk mengajarkan Al-Quran kepada sekalian masyarakat kamu"

Rasulullah bersabda:

"Khairukum.. "

Wah satu kelas mengikut. Mana tidaknya, hadis ini sering diulang-ulang disebut dan disiar. Terpampang megah di logo taman indah di perbukitan hijau Kuala Kubu Bharu yang tetap kemas dalam ingatan.

“Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

(Sahih Bukhari)

Begitulah, kita jangan menganggap mudah akan bacaan Al-Quran. Terkadang terasa syok sendiri dengan irama bacaan sampai terlupa mana satu makhraj yang betul, mana juga hukum tajwid yang terkurang.

Jadi, usah segan untuk belajar. Bagi yang berpeluang ke negara Arab, peluang untuk belajar dan mengaji dengan guru Al-Quran yang berlahjah arabiah sepatutnya tidak dilepaskan. Para duat juga tak terkecuali. Ilmu Al-Quran harus kukuh dalam diri.


“Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tersekat-sekat dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), maka baginya akan mendapat dua pahala.”

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan daripada Abu Musa Al-Asy’aru ra, katanya: Rasulullah s.a.w bersabda:

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujjah ( oren ) yang baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma yang tidak berbau sedang rasanya enak dan manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca
Al-Qur’an adalah seperti raihanah ( selasih ) yang baunya harum sedang rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti hanzhalah ( sejenis labu ) yang tidak berbau sedang rasanya pahit.”
(Riwayat Bukhari & Muslim)

Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amrin Ibnul Ash ra dari pada Nabi saw bersabda:

“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, bacalah dan naiklah serta bacalah dengan tartil seperti engkau membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.”

(Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’I, Tirmidzi berkata, hadis ini hasan sahih)


Mudah-mudah diri ini terus ingat, rajin untuk iadah tanpa jemu mentatbiq kefahaman di samping mengislah dan menyebarkan kepada sahabat sekeliling.

Amin, Insyaallah !! Allahumma yassir !!

* Rujukan : Adab Hamalatul Quran oleh Imam Nawawi


9 Oktober 2010


Sudah berhari-hari memerap idea. Memutar pemikiran dan rasa. Namun kadang-kadang terasa tidak bercambah lantaran tandusnya input yang melewati pemikiran.

Hasilnya, isu yang diputar hanya berkisar pada tokik-topik yang sama. Malahan, isu-isu semasa yang saban hari mencarik-carik jati diri seorang muslim kian dipandang lesu.

Puncanya?

Adakah kurangnya nilai tambahan input dan pengaplikasiannya dalam permasalahan hari ini menyebabkan kalam bisu ini terus saja senyap dalam dunianya..

Seolah wasilah yang ada tidak digunakan sebaiknya.

Jalannya sebenarnya sudah ada.. Bertitik tolak dari kita sendiri. Menyedari hal itu, tapi untuk berubah terasa agak sukar sekali.

Isunya mungkin terpencil. Tapi bagi seorang yang berangan mahu menjadi pemikir Islam la budda mesti ada sifat ini ada dalam dirinya.

Membaca dan mengkaji.

2 aspek berlainan tapi kerjasama antara keduanya menghasilkan satu natijah yang besar.

Soalnya, bagaimana pula sumber-sumber bacaannya.. Di pasaran sekarang bercambah berbagai jenis bahan bacaan. Ilmiah, falsafah, keagamaan, kekeluargaan, pendidikan, sains, sukan, hiburan, akhbar-akhbar politik dan nyamuk, dan sebagainya. Dari serendah-serendah mutu ke seberat-berat falsafah yang cuba diterapkan oleh para penulis.

Tak dinafikan kecanggihan hari banyak membantu dan memudahkan kita merekodkan jumlah koleksi e-book dalam cakera keras laptop, ataupun taip sahaja di layar sesawang. Mudah, senang dan menjimatkan.

Barangkali saya masih lagi selesa mengaplikasikan cara kuno,( kunokah baca buku tu ?) menyebabkan masih lagi tidak terasa nikmatnya meratah isi-isi penting dari kedua-dua kaedah ini. Tambahan pula koleksi rujukan yang ada sekarang banyak dalam bahasa kedua.. ( lughah arabiah), menjadi satu cabaran besar buat diri.

Beralasankah saya ini?

Falsafah Iqra'

Jalan yang ada sudah pun terbentang. Nak atau tidak sahaja. Pelbagaikan sumber, selarikan dengan kajian ( rujuk juga orang yang ahli/ pakar dalam bidangnya ) agar kita mendapat kefahaman yang betul.

Tak dinafikan membaca/belajar tanpa berguru kelak akan membawa kepada pentafsiran yang salah. Tambah-tambah pula pelbagai jenis aliran pemikiran yang ada sekarang semestinya memungkinkan kita terpengaruh dengannya.

Jua bahan-bahan yang ada kadang-kadang tidak dapat dipastikan kesahihannya.

Apapun, jangan alasan-alasan ini membantutkan semangat dan rasa untuk terus menguliti kitab-kitab yang ada.

Mahu menjana idea? Pemikiran yang kritis takkan lahir semula jadi.

Sumber pula perlu bersesuaian dan tepat.

Seeloknya, hadamilah dahulu kitab-kitab asas, karangan ulama-ulama silam. Yang menjadi rujukan kepada beribu-ribu kutub hari ini.

Memahami sesuatu isu dari luar, tentu tidak seenak menikmati puncanya dari asas. Juga kajian dan tatbiq sesuatu ilmu itu semestinya harus dilatih. Mahu menerima sahaja bulat-bulat tentu sahaja tidak akan mencapaikan kita dengan falsafah iqra' itu sendiri.

Bertanya, mengkaji, membaca, mencerna pemikiran dan idea harus sekali berselarikan kalam wahyu tidak hanya aqli semata.

Semoga pencerahan lahir dari pemikiran yang bersih, input yang berkualiti juga output praktikal yang sentiasa dilazimi.

* Menguliti kitab-kitab pengajian kuliah..
Mahu mencari rasa nikmat dan enak sambil mendambai kasih sayang dan redhaNya. ( semakin tebal dan mencabar.. ada juga yang tidak disuap pensyarah. Berkampung di maktabah la nampaknya merasai sedikit jihad serta juhud pencarian ilmu para ulama' ).

* Membaca bukan hanya untuk imtihan dunia yang kecil sekali harganya, malah moga-moga menjadi ulama' terpandang di sisNya..

Insyaallah.

9 Oktober 2010

Semuanya bermula dari kita. Baik niat, perbuatan atau sebagainya.

"What you give you get back!"

Begitu juga hati.

Hati yang iklas untuk memberi akan menatijahkan suatu hasil yang ikhlas. Tiada kekusutan walau ada masalah melanda.

Tenang, walau badai ribut datang menyerang.

Hati-hati kita.

Kalau ditamsilkan ianya suatu gelas jernih yang kosong. Isilah apa jua air ke dalamnya. Air kosong, air jus, air berwarna.

Warna gelas pasti akan mengikut apa yang kita isikan ke dalamnya.

Jua ia ibarat cermin.

Imam Ibnu Qayyim pernah menulis:

Hati itu, ibarat cermin yang memantulkan apa sahaja yang ada di dalamnya. Pandangannya tembus melihatkan apa sahaja.

Andai baik, baiklah apa yang ia jelmakan.

Jua perlu sentiasa digilap. Biar tetap terang memantul imej yang ada. Jika tidak berdebu, hasil yang diimpikan pun tidak secantik yang asal.



Kamu mahu memantulkan kekotoran, hasil yang suram?

Sudah tentu tidak kan!

Jagalah hati jangan kau kotori, jagalah hati cahaya ilahi.

Hati yang bersih, akan begitu mudah memantulkan, membuahkan hasil akhlak dan amal yang indah. Begitulah juga sebaliknya.

Dalam bermuamalah, takkan jua terlepas dari masalah hati.

Cemburu dengan teman, bangga dengan kelebihan sendiri, dan sebagainya ibarat parasit-parasit halus yang hinggap yang akhirnya mampu merosakkan sel yang akhirnya akan membunuh jika tidak di atasi.

Apatah lagi kalau berlainan gender kan.
Apapun pantang mengalah sebelum berjuang, berusaha.

Moga kita sama-sama dan terus berusaha menjaganya, takkan membiarkan hati yang satu ini dari terus teruji yang akhirnya membawa kepada kebinasaan sendiri.

Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, hati-hati kami ini telah bersatu di atas jalan MahabbahMu, jalan menuju Ketaatan kepadaMu.. Ya Allah, Kau kuatkanlah ikatan ini ya Allah. Ya Allah, thabatkan qulubuna atas jalanMu, memikul dakwah dan amanah hanya untuk KeredaanMu, jangan Kau pesongkan hati , janganlah Engkau membolak-balikkan hati kami setelah memberi Hidayah kepada Kami.

29 September 2010

Alhamdulillah fasal ini bermula dengan baik. Walau cuaca masih lagi panas dan matahari masih lagi garang memancar ( kalau tahun lepas, waktu sebegini sudah sejuk, matahari malu-malu menyilaukan mata ), tak apa itu cabaran kan. Tak sempurna hidup kalau tak ada cabaran.

Seronok memerhatikan adik-adik generasi baru. Bermacam gaya, membuat saya teringat memori tahun pertama. ( tahun 2 la sangat )

Saban tahun, jumlah masyarakat minoriti ini semakin meningkat. Moga-moga kualiti ulama' dan agamawan yang bakal dilahirkan juga setanding. Insyaallah.

Saya, kita, sahabat-sahabat, juga adik-adik sebenarnya melalui satu fasa yang sama. Walau berbeza tahap pemikiran, umur dan kematangan, hakikatnya fatrah hidup sebagai seorang remaja atau lebih cantik saya katakan sebagai generasi pemuda sedang sama-sama kita jalani.

Zaman remaja atau muda ini memang sangat manis. Semangat dan tenaganya berkobar-kobar. Terpulang mahu memilih jalan mana. Kalau ke arah kebaikan, Alhamdulillah dan kalau ke arah keburukan, sedarlah, masih ada peluang untuk berpatah balik.

Remaja dan pemuda/pemudi

Mengapa soal masa muda ini sangat ditekankan.

Pada hakikatnya usia muda seorang pemuda ialah usia yang penuh dengan cita-cita yang tinggi dan darah yang gemuruh serta idealisme yang luas. Iaitu usia yang memberi pengorbanan dan menebus semula. Usia yang menabur jasa, memberi kesan dan emosional. Oleh itu, menurut pandangan Islam, usia muda seorang pemuda harus dipenuhi dengan tanggungjawab dan nilai yang khusus. Rasulullah s.a.w sendiri kerana itu menekankan supaya pemuda-pemuda merasai dan mempunyai sifat-sifat sedemikian melalui sabdanya:

'Ambillah peluang lima perkara sebelum datangnya lima perkara:- Usia muda kamu sebelum tua,masa sihat sebelum sakit, harta kekayaan kamu sebelum papa, masa hidup kamu sebelum mati, dan masa kosong kamu sebelum sibuk"

Saya tertarik dengan tulisan Almarhum Dr Fathi Yakan dalam bukunya, Generasi Pemuda dan Perubahan yang menyatakan :

"Islam, apabila ia menekankan supaya para pemuda melaksanakan matlamatnya yang menginginkan perubahan, bererti bukanlah diserahkan tugas itu kepada mana-mana generasi sahaja yang tidak mempunyai ciri-ciri tertentu, tetapi terlebih dahulu dimestikan atau dituntut supaya generasi itu mempunyai sifat-sifat Islam dan berpegang teguh dengan prinsip-prinsip Islam iaitu berkehendakkan generasi Islam yang tulen.

Para pemuda yang bersifat Islam adalah suatu hal, dan para pemuda tanpa Islam adalah suatu hal yang lain dan tidak ada apa-apa selain dari itu. Para pemuda dengan Islam bererti pemberi, iaitu kebaikan dan pembinaan dan yang tanpa Islam ialah celaka dan bala'.

Pemuda ialah suatu tenaga yang digunakan oleh Islam untuk membangunkan dan memakmurkan alam tetapi orang lain mempergunakan mereka untuk meruntuhkan umat
manusia.

Sesungguhnya masyarakat manusia hari ini penuh sesak dengan pemuda-pemuda tetapi pemuda-pemuda ini hanyalah yang kosong, hanyut dan terbiar;

Pemuda yang tiada peribadi,bersikap seperti kera;
Pemuda yang tiada mempunyai akhlak, yang lebih dekat dengan binatang ;
Pemuda yang dijadikan tentera oleh kuasa-kuasa jahat dan zalim, disusun oleh parti-parti
kufur dan syaitan;
Pemuda pondan yang tiada kebaikan pada mereka;

Tetapi keberkatan datang bersama pemuda yang tinggi cita-citanya."

Kenapa Perlunya Persiapan Pemuda Islam?

"Ada beberapa gambaran yang berbeza di sekitar tugas seorang pemuda Islam dan matlamat dari persiapan mereka itu. Apakah matlamat utama dari persediaan pemuda Islam ini?

Adakah matlamatnya sekadar memelihara dirinya daripada kecundang oleh hawa nafsu dan dorongan-dorongan fitnah, atau setakat supaya dia menunaikan fardhu-fardhu wajib yang ditaklif oleh Allah dan meninggalkan segala larangan Allah? Adakah itu sudah mencukupi?

Atau adakah matlamatnya untuk membekalkan mereka dengan pengetahuan Islam yang cukup yang membolehkan mereka menulis dan bercakap sahaja?

Dan adakah matlamat persiapan seorang pemuda Islam bagi untuk menjalankan amal-amal kebajikan, memberikan makan kepada orang miskin, merawat orang sakit dan bersimpati dengan mereka yang menderita sahaja?

Atau adakah sekadar mempersiapkan pemuda Islam supaya boleh menjalankan dakwah Islamiah sekadar melepaskan batuk di tangga?

Atau menjadikan mereka itu berada dalam suatu suasana organisasi pemuda Islam dan cukup setakat itu tanpa mengira samada dia menjadi da'i atau pembimbing semata-mata?

Pada hakikatnya kita tidak bebas untuk memilih matlamat-matlamat yang di gariskan itu, pada masa dunia Islam berada di bawah pemerintahan sistem 'Taghut', dan Islam berada jauh dari memegang teraju pimpinan.

Sebenarnya, matlamat utama persiapan pemuda-pemuda Islam hari ini ialah untuk melaksanakan matlamat tercapainya 'Qawamah' (penguasaan) Islam terhadap masyarakat dan dunia. Ini memerlukan tugas para pemuda Islam bagi memindahkan pimpinan umat dari tangan jahiliah ke tangan Islam. Dan juga pemikiran, perundangan dan akhlak jahiliah kepada pemikiran, perundangan dan akhlak Islam.

Amal seperti itu dan apa yang diperlukan olehnya, apa yang berhubung dengannya dan apa yang bercabang darinya atau apa yang dituntut olehnya dan juga tujuan terbesar dari persiapan seorang pemuda Islam tadi maka perkara-perkara ini hendaklah dianggap penting oleh para pemuda Islam. Ini adalah wajib dari segi syara' dan ianya itu tidak akan gugur dari menjadi tanggungjawab mereka sehinggalah Kalimah Allah lebih tinggi, mengatasi kalimah-kalimah orang kafir.

Tujuan 'manhaj' (method) Islam ialah untuk mengembalikan 'ubudiyah' manusia kepada Allah dalam segala urusan hidup mereka. Dalam bidang akhlak dan urusan hidup, dalam bidang undang-undang dan pemikiran mereka. Ini bererti meruntuhkan asas-asas dan pusat-pusat yang menjadi tempat tegak dan berdirinya masyarakat jahiliah dan tamaddun materialisme. Di tempatnya itu pula ditanam asas-asas supaya tertegaknya sistem Islam.

Ini bermakna bahwa tugas dan peranan pemuda Islam ialah melakukan "perubahan" dan bukannya menempel atau memperbaiki, dan inilah yang sewajibnya berlaku. Tugas ini pada hakikatnya adalah tugas yang berat dan sukar tetapi ianya adalah tugas yang dituntut; dan tugas selain dari ini tidak mempunyai nilai. Malah tugas yang lain ini akan mem-bawa bencana yang akan menangguhkan kemahuan para pemuda kepada perubahan, malah akan membawa kepada perjalanan seiring dengan realiti jahiliah yang ada dan cuba hidup bersamanya."

Bukan mudah sebenarnya untuk melahirkan generasi pemuda Islam yang benar-benar berkualiti dan mampu mencetus perubahan. Ia memerlukan banyak persiapan serta persediaan dan tidak kurang pebagai cabaran yang harus ditempuh.

Antaranya :

1) Kesediaan para pemuda untuk disusun atur/menerima arahan

-Tanpa adanya persediaan ini, unsur taat akan hilang dan turut hilang pula unsur bersedia menerima untuk melaksanakan. Maka tidak ada nilai kemampuan rohaniah, fikriyah dan jasmaniah yang boleh dimanfaatkan daripadanya dan ia tidak dapat dikawal atau diarahkan. Ia kadangkala menjadi unsur yang menghancurkan, menyekat dan menghalang.

2) Persediaan dan kesanggupan untuk memberi / produktif / melahirkan natijah

- sifat ini yang menjadikan seorang pemuda Islam itu dalam suasana masyarakat sekitarnya menjadi sebagai pelopor dan bukannya pengekor, yang cergas bergiat dan bukannya malas dan menjemukan. Yakni sifat inisiatif sendiri dalam skop peranan yang diwakilkan kepadanya. Adapun mereka yang hanya bergerak apabila diketuk atau ditekan, maka yang seumpama itu tidak diperlukan sangat oleh Islam dewasa ini. Keperluan hari ini amatlah mendesak kepada mereka yang sanggup memikul Islam bukannya Islam memikul mereka.

3) Kesediaan dan kefahaman erti dan nilai jihad dalam kehidupan

- ertinya persediaan kejiwaan untuk berjihad dan tuntutan jihad sepertiberkorban jiwa dan harta malah segala sesuatu. Sifat jihad yang menjadikan pemuda Islam itu mempunyai persediaan cukup bagi memenuhi bai'ah dengan Allah menurut firmanNya:

"Sesungguhnya Allah telah membeli daripada orang-orang mukmin itu jiwa dan harta
mereka dengan ganjaran syurga, mereka berperang pada jalan Allah, maka mereka membunuh dan mereka dibunuh, janji ke atasnya itu benar tersebut dalam Taurat, Injil dan al-Quran, dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain dari Allah dan bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (9:111)

Bagaimana? Bersama kita muhasabah bersama, adakah generasi pemuda yang membawa perubahan itu adalah kita??

Jika tidak, ada mahu berpeluk tubuh sahaja mengiakan?

Tepuk dada tanya iman.

* Rujukan : Generasi Pemuda dan Perubahan : Almarhum Dr Fathi Yakan

22 September 2010

Hari baru telah bermula. Tahun baru, moga dengan azam dan semangat yang sentiasa diperbaharui.

Sudah setahun bermusafir di sini. Kalau dulu, kehadiran ke tanah Syam ini disambut para senior, kini tibalah masa untuk kami pula melaksanakan tanggungjawab itu.

Alhamdulillah, adik-adik yang dinanti telah selamat tiba di dataran berpasir Jordan. Perbagai rasa dan gaya yang ditemui. Agaknya, inilah juga yang dilihat oleh kakak-kakak dan senior kami ketika langkah kami mula bertapak di sini.

Harapan diri ini, moga kalian akan terus tabah, sekental tiga syuhada' yang bermusafir dari Tanah Madinah yang berjuang di tanah ini namun tidak sesekali pulang. Merekalah yang akan menemani kalian di sini. Semoga roh jihad mereka akan terus mengalir dalam diri-diri kita, tolabul ilmu bagi mencapai redhaNya..

Jangan sedih-sedih ya!!

Rindu sedikit terubat dengan kehadiran dua muallim yang pernah mendidik diri ini sedari sekolah menengah hingga ke alam kampus. Us Muslim dan Us Sya'bani.. Mohon doanya ustaz. ( Jaulah sakan ustaz di bumi Syam ye )

Jua masih rindu dengan titipan kasih sayang dari ibu Syahidah Julai lepas..

Sekejapnya masa berlalu. Bagaimana pengisian yang telah diperoleh dalam tempoh itu.
Perkhabaran dari tanah air selang seli datang. Alhamdulillah, Sultan Kelantan yang baru telah selamat ditabalkan. Moga Islam terus disuburi dengan jayanya di tanah air tercinta.

Perjalanan..

Sudah tentu akan melalui jalan yang berbagai. Ada yang awalnya berduri, ada juga yang bersimpang siur, ada juga yang terjumpa jalan mati. Terpaksa berpatah balik untuk mencari jalan yang betul.

Begitulah hidup kita takkan sunyi dari pelbagai cabaran. Terkadang semasa tempoh itu, kita akan merasai kesakitan yang teramat hingga tak terdaya untuk berdiri sendiri. Tika itu, kalau ada tangan-tangan yang memberi pertolongan, terasa betapa tulusnya mereka memberi.

Kita takkan mampu melaluinya berseorangan. Perlukan peneman dan sahabat yang setia. Yang akan menegur tatkala kita terlalai.

Namun, setakat ini bagaimana kita telah mencuba untuk menjadi teman dan sahabat yang terbaik. Selalu menuding kepada orang lain, begitu dan begini namun diri sendiri tidak sedar dia juga perlu sama-sama menjadi seperti itu.

Hidup dengan nilai saling memberi. Memberi yang terbaik. Tidak kira dalam apa jua urusan, tanggungjawab atau amanah. Sebagai seorang hamba, seorang anak, seorang pemimpin, seorang pekerja, seorang pelajar, seorang sahabat. Semuanya memerlukan tuntutan yang berbeza.

Insyaallah, kita semua mampu untuk Islam.

27 Ramadhan 1431 H / 6 September 2010

Alhamdulillah, masih bertemu dan dapat bertamu di bulan Ramadhan.

( Cerapan hilal Ramadhan 1431- Rindu Malaysia- Kompleks Falak al-Khawarizmi )

Sedih rasanya, hanya berbaki beberapa hari lagi ia akan pergi. Sudahkah rahmat, keampunan dan pelepasan dari api neraka didapatkan atau Ramadhan ini sama sahaja dengan yang lepas??


Wallahua'alam.

Hampir sebulan rasanya menyepi. Maaflah, imtihan menjengah berganti taklifat yang menanti untuk diselesaikan harus dulu diaulakan.

Esok, genaplah setahun bumi Malaysia ditinggalkan. Kalau dahulu, bertamu di Tanah Syam ini ketika Ramadhan baru bertapak seminggu, hari ini, di sini, terkenang kembali saat itu, tika di bulan barakah ini, berada dalam fatrah minggu terakhir untuk mencari seribu satu rahmat dari Nya. Apapun, bagi saya Ramadhan di Mu'tah ini lebih terasa dzuqnya. Alhamdulillah, 'feeling' nak raya masih belum nak berapa ada.

Itu lebih baikkan. Tenang, dan tidak perlu terkejar-kejar akan raya.

( Iftor bersama orang Arab- Nasi Mandi Jordan-.. sedap sangat )

Yang paling penting, zakat fitrah. Tunaikan sebelum luput waktu.

( first time bayar zakat sendiri. Biasanya abah yang bayarkan. Nak buat macam mana, tahun ini bermastautin di Mu'tah)

Moga-moga hikmah dan ibrah Ramadhan dapat dijadikan pedoman buat penguat diri menempuhi 11 bulan yang mendatang.

* Salam Lebaran dari Tanah Syam. Tetap rindu akan riuhnya rumah tatkala semua adik beradik berkumpul. 7 beradik yang bermacam ragam.

* Mek kata tak dapat nak buat tapai pulut dan ketupat daun palas tahun ini. Ya Allah, sembuhkanlah nenekku.. ( Ketupat Mek yang tetap dalam ingatan)

*Makan ketupat daun palas, biskut raya, ingat-ingatlah kami di sini.

*Tahun pertama beraya, dengan ketiadaan dua orang ahli keluarga.( Bapa Saudara, arwah pakcik Hasyim, dan sepupu, arwah Nazihah)

Ya Allah, Rahmatilah sekalian kaum kerabatku, sahabat handai dan kaum muslimin sama ada yang masih hidup atau yang telah pergi.

Al-Fatihah

07 Ogos 2010


Kali ini, Ramadhan bakal menjengah kita lagi.

Kali kedua bakal menyambut bulan barakah di bumi musafir..
Terasa getir. Musim panas yang mencabar, ditambah pula imtihan nihai yang bakal menjengah seminggu dari sekarang.

Juga beban amanah yang mula tergalas ke atas insan yang dhaif ini.

Sedikit tersentuh dengan ucapan pensyarah di dalam kelas tatkala sahabat-sahabat Arab meminta supaya ditiadakan kelas bila puasa mengunjungi.

"Anakku, bukankah kebanyakan jihad dan perang kaum Muslimin itu di dalam bulan Ramadhan. Tidakkah kamu tahu, bahawa banyak negara Islam dibuka ketika bulan Ramadhan?"

"Ya Allah, sampaikanlah kami dengan Ramadhan yang dirindui. Berilah inayah dan nusrah untuk kami menghadapi imtihan-imtihan dunia, agar ia juga menjadi jalan dan wasilah bagi kami menggapai redhaMu"

* Tertarik dengan kata-kata dari mesej ym dari kawan-kawan:

"Nama saya Syaa'ban. Saya ingin mengingatkan anda bahawa jiran saya iaitu Ramadhan akan datang mengunjungi anda tidak lama lagi bersama isterinya iaitu rezeki & kedua-dua anaknya iaitu sahur&iftar. Mereka akn ditemani oleh ketiga-tiga cucunya iaitu Rahmat,Barakah & Keampunan. Mereka akan pulang selepas 30 hari dengan menaiki pesawat penerbangan Eidul Airlines. Hargai mereka & anda akan mendapat pahala yang berlipat ganda! [Ramadhan Kareem]"


* Misi mencerap anak bulan. Ya hilal yang dinanti, adakah dikau akan kami lihat, sebagai tanda setiap perubahan alam itu punyai hikmah tersendiri yanng harus diteliti oleh setiap umat.

( Ya Allah, permudahkan segala urusan kami )

6 Ogos 2010

Manusia itu,
Terkadang lupa,
Dia hidup untuk apa,
Dia perlu buat apa..

Seringkali,
Dia tersadung nafsu sendiri,
Pedih, luka semuanya perit menggigit sanubari..

Andai,
Tidak dimuhasabah selalu,
Manakan mampu diri mengubat,
Mengelus hati naluri keinsafan..

Kita sememangnya tahu,
Kenal kan diri sendiri,
Kerna fitrah itu halus,
Sama sedar ditidakkan atau dibiar,
Ia tetap datang,
Mengetuk pintu-pintu iman,
Agar terus kukuh dalam percambahan amal..

Ya Allah,
Terimalah hamba-hambaMu yang tulus doanya,
Walau kecil sekali dalam pandanganMu,
Biarlah mereka tidak sehebat para Auliya' Mu,
Namun,
Tika hampirnya rintihan nurani berbisik,
Memohon maghfirah dan rahmat,
Tika bayu dinihari mengelus lembut,
Terimalah kami, Ya Rabb
Untuk terus mengembalikan segalanya,
Hanya untukMu.

22 Julai 2010

Hari ini dan semalam. Alhamdulillah udara dan suhu agak rendah berbanding sebelumnya. Tapi, teriknya panahan matahari masih lagi lagi menikam mata.

Sudah hampir sebulan kelas bermula. Terkadang rasa penat itu datang. Maklumlah, kelas yang sama setiap hari.

Tapi tak apa. Cabaran belajar.

Syukur, tak sia-sia rupanya mengambil subjek Nusus fi Sadr Islam wal Umawi dalam semester soifi. Ditambah pula, statusnya sebagai madah kunci untuk madah syair-syair zaman seterusnya menyebabkan tidak dapat tidak, subjek ini harus diteliti dengan baik.

Sudah 4 syair dipelajari setakat ini. Satu tempoh yang singkat sebenarnya sebulan itu. Bayangkan, setiap satu syair paling kurang ada 50-80 bait. Kami harus bertungkus lumus memahaminya. Bukan apa, kelas setiap hari dan syair yang lepas tidak akan diulang.

Mujurlah doktor menyertakan ringkasan dalam kitab pengajian. Jika tidak, mahu kami bertujuh terkapai-kapai mencari arah dalam memahami tema setiap syair ini. Hari ini pun belajar nasar baru. Khutbah Al-Batraa' ucapan Ziyad bin Abiihi kepada penduduk Iraq.

Agak laju pembelajaran semester ini.

Bermula dengan pengenalan asas mengenai perkembangan syair di zaman permulaan Islam sehingga zaman Khilafah Umawiyyah.

Sebenarnya, syair telah mengalami zaman kemerosotan dalam periwayatan syair dan juga penerapan unsur kesenian yang ada di dalam syair juga dikatakan telah berkurang ketika zaman ini. Puncanya, pada zaman permulaan Islam, kebanyakan penyair atau umat Islam lebih tertumpu kepada usaha penyebaran dakwah Islam, pembelajaran serta penghayatan yang lebih khusus terhadap kitab suci Al-Quran. Ini menyebabkan keutamaan masyarakat Arab kepada syair telah berkurang di samping usaha islah mereka sendiri terhadap kefahaman agama.

Ini bukan bermakna tiada langsung syair diriwayatkan pada zaman permulaan Islam, bahkan Rasulullah sendiri mempunyai sahabat-sahabat yang terdiri dari golongan penyair. Berfungsi melawan kembali syair-syair musyrikin yang menghina Rasulullah, juga sebagai satu wasilah untuk menyebarkan lagi Islam. Tiada dalil pun yang menyebut tentang pengharaman syair. Melainkan jika syair itu digunakan untuk menghina Rasulullah dan Islam.

Syair pertama:
Banat Suad- oleh Kaab bin Zuhair.


Secara umumnya syair ini menceritakan tentang perasaan / keadaan yang dialami oleh Kaab sebelum dan selepas memeluk Islam. ( Kaab dikenali sebagai penyair mukhadramin- iaitu penyair yang melalui dua zaman, iaitu zaman jahiliah (sebelum Islam) dan selepas kebangkitan Islam.

Jika diteliti dengan dengan lebih jelas, unsur seni yang terdapat dalam qasidah ini masih lagi menggunakan sebahagian unsur /uslub syair yang banyak terdapat dalam kebanyakan syair zaman Jahiliah.

Menurut doktor, ada tiga bahagian utama dalam qasidah ini. Pertama, pengenalan qasidah yang berunsurkan uslub luahan perasaan cinta, kemudian pujian terhadap Rasulullah dan akhir sekali pujian terhadap kaum muhajirin.

Bahagian pertama: Mukaddimah berunsurkan cinta.

Jika anda (maksud saya pelajar B.Arab) perasan, kebanyakan penyair zaman Jahiliah menggunakan uslub ini dalam penghasilan syair-syair mereka. Contohnya syair Antarah. Fokusnya cinta bukan?

Namun, dalam qasidah ini, bukanlah tujuan Kaab menggunakan uslub ini sebagai fokus penceritaan, cuma apa yang dijelmakan di dalam sifat-sifat Sua'd merupakan perumpamaan/ syibih terhadap apa yang dialami oleh diri Kaab sama ada sebelum dan selepas keislaman beliau.

Juga perjalanan hidup yang dilalui sebelum menerima cahaya Islam. Hal ini disyibihkan dengan perjalanan/pengembaraan seekor unta yang melalui pelbagai jalan yang susah dan adakalanya melalui jalan yang mudah sebelum sampai ke destinasi pengembaraan.

Bahagian kedua: Pujian terhadap Rasulullah.

Kaab memeluk Islam, agak lewat dari sahabat-sahabat Rasulullah s.aw. yang lain. Di mana, ketika masih belum memeluk Islam, beliau merupakan salah seorang penentang Islam yang kuat. Sehinggalah, ketika pembukaan Kota Mekah, nama beliau disebut sebagai salah seorang musyrikin yang layak untuk dibunuh ketika mana Rasulullah memberi pengampunan kepada seluruh rakyat Kota Mekah.

Bagaimana kemurahan hati rasulullah dan kaum muslimin memaafkan segala kesalahan dan kekejaman beliau dengan syahadah yang dilafazkan. Betapa lapang dan tenang hatinya dirasai, sehingga beliau tidak lagi kisah akan dipinggirkan oleh teman-teman seperjuangan yang masih lagi kufur akan kemurnian Islam.

Indahnya hidup bertuhankan Allah, berasulkan Nabi Muhammad s.a.w dan bersaudarakan seluruh kaum muslimin.

Sebesar-sebesar nikmat dan kebahagiaan yang dianugerahkan kepada Kaab.
Itulah yang tergambar dalam bait-bait syair ini.

Bahagian ketiga : Pujian terhadap kaum Muhajirin


Sebagaimana yang kita sudah ma'ruf, kaum muhajirin merupakan di antara pendokong yang sama-sama berjuang dengan Rasulullah s.a.w sejak dari awal kebangkitan Islam. Sama-sama merasai susah dan senang perjuangan Islam bersama nabi.

Kesanggupan meninggalkan segala kesenangan untuk sama-sama berhijrah ke Madinah sememangnya tidak dapat digambarkan betapa hebatnya pengorbanan mereka terhadap dinul Islam, tambah meninggalkan suatu perasaan kagum Kaab kepada golongan Muhajirin.

Sama-sama berperang dengan Rasulullah, sedia dipersaudarakan dengan Ansar, kemudian bergabung untuk lebih menguatkan Islam.

Semuanya terangkum indah dalam bait-bait puitis qasidah Kaab.

Seronok kan belajar syair.. Kiranya saya boleh menyetujui pendapat Ustazah Hasliza (bakal bergelar Dr.), antara manfaat yang boleh diambil dari belajar syair, menambahkan rasa cinta terhadap pencipta.

Subhanallah, indahnya Bahasa Arab, Lughatul Qur'an dan Jannah.

Ayuh, bagaimana pula qasidah kedua?? Nantikan sambungannya.

*Sedikit tasawwur ringkas dari kefahaman saya mengenai syair ini.. Andai ada tersalah, mohon pembetulan dari sahabat-sahabat.

18 Julai 2010

Dia melangkah ke Jami'ah dengan penuh semangat. Walau hari-hari sebelumnya dibayangi gusar dan kemerosotan pengurusan masa, dia sedar hari yang berlalu mesti jua dilalui.

Sedikit kesal. Tidak berusaha untuk bersedia secukupnya menghadapi peperiksaan pertama bagi semester panas itu bagi subjek Mabadi' Fi An-Nahu wa Sarf sedia menambah gusar. Barangkali menganggap, subjek sarf yang sudah dihadamkan semester lepas akan banyak membantu.

Tapi, itulah situasi yang selalu dia lupakan. Subjek sarf juga yang banyak menjerat. Manakan tidak, dalam beratus perkataan, berpinar juga mata untuk menentukan mana satu masdar, mana satu isim fa'il, juga isim-isim musytaqqaat yang ada. Kalau tidak dihafal formula, manakan boleh semuanya dikenal..

Yang penting, kena rajin buat latihan.. Ya, praktikal itukan lebih berkesan.. Belajar ke, dakwah ke, tak berguna tanpa praktikal. Ayat semangat sahaja tidakkan mencukupi.

"Ilmu tanpa amal seperti pohon yang tidak berbuah"

Dia masih lagi meneliti nota. Kebetulan hari itu keputusan bagi subjek Nusus fi Sadr Islam sudah keluar. Alhamdulillah. Allah masih lagi mahu memberi..

Tiba saat yang dijanjikan.

Dia bersama temannya melangkah masuk ke kelas. Seperti biasa, karenah arab yang pelbagai tidak dihiraukan. Gunakan masa terakhir ini dengan baik..

Akhirnya pensyarah masuk, dan kertas soalan mula beredar dari depan ke belakang.. Dia sebenarnya cuba mengelak dari duduk di belakang. Apakan daya, perlu patuh pada arahan mua'llim.

Imtihan bermula..

Soalan..
Seperti yang dijangkakan.. Namun, terkadang jua dia agak keliru..

Di depan, karenah biasa ketika Imtihan mula menjentik kesabaran.

Sebenarnya, dia amat kasihan kepada mereka. Kepada murabbi mereka.. Yang penting, bagaimana dia, mereka dengan tuhan mereka..

Kenapa dia harus ada perasaan begitu?

1) Kepada murabbi mereka

Kepercayaan doktor bukan senang untuk diperoleh. Tambah-tambah lagi, sebagai ajanib yang setakat ini ( ataupun sudah tercalar ataupun rosak ) , masih lagi membawa imej yang baik. Dia percaya, doktor ini takkan sesekali menzalimi pelajar-pelajarnya. Tapi bagaimana lagi yang harus murabbi ini lakukan, ketika para pelajarnya sudah tidak lagi jujur dalam menuntut ilmu..

2) Mereka sendiri

Sudah beribu ringgit dihabiskan bagi mencapai matlamat sampai ke sini. Adakah mereka menganggap pelaburan keluarga mereka terutama ibu dan ayah itu tiada nilainya?

Sedihnya menghadiahkan sebuah penipuan halus, bertopengkan kejayaan..

3) Tuhan mereka

Adakah sudah hilang rasa bertuhan dalam diri. Dia tidak menyalahkan ilmu alat yang dibelajar, cuma dia tertanya, sudah hilangkah prinsip mereka-mereka itu di bumi titisan darah ini.

Tuhan mereka itu sentiasa melihat, tembus ke dalam hati dan sanubari.

Bumi ini sudah bertuah, sudah ada barakah, tapi kenapa perkara yang dilaknat, dimurkai itu jua harus dijadikan pakaian..

Adakah, barakah ilmu yang mereka cari atau semata-mata melihat sijil cemerlang dengan pangkat mumtaz namun penuh dengan penipuan???

Dia jadi sebak.. Sedih.

Masih terngiang-ngiang, nasihat ustaz B.Arab di sekolah lama yang sangat dirindui..

"Mungkin kita melihat, situasi yang sering berlaku ketika musim peperiksaan itu perkara remeh. Ialah, benda biasa. Kat mana-mana pun ada. Di sekolah rendah, sekolah menengah, tak lepas di universiti.

Namun, si pembuatnya jangan lupa, andai dia berjaya dengan hasil tidak jujur, tentulah dia akan berbekalkan sijil kelulusan palsu itu untuk memohon pekerjaan.

Alhamdulillah jika dia mendapat kerja bersumberkan sijil itu.. Cukup bulan, pendapatan yang setimpal akan diperoleh. Bagaimana pula jika ia dibelanjakan kepada ahli keluarga, anak-anak serta sahabat handai..

Terus meneruslah mereka dalam kemurkaan.. Hasil dari sikap tidak jujur.. Baik dari sekecil-kecil sikap tidak jujur dalam kehidupan akhirnya boleh merebak kepada ahli masyarakat"

Banggakah berjaya tanpa usaha, tapi dengan jalan kerja yang terhina di sisiNya..

Di mata manusia sahaja indah, namun di sisi tuhan tiada harga, tentu sahaja sia-sia sahaja kepenatan dan harga

Noktah.

* Dia juga bimbang, sikap ini akan melarat sampailah remaja-remaja yang baru mengenal dunia sebenar matang, mereka masih lagi bangga memakai pakaian penipuan..

Tidak mustahil, kalau esok-esok menjadi pendidik menipu pentadbir sekolah, anak murid menjadi peniaga tidak jujur pada pembeli, lebih malang jika ada di kalangan mereka menjadi pemimpin masyarakat, semestinya sudah pakar untuk menipu rakyat..

Sesat lagi menyesatkan..

* Jujurlah pada diri sendiri. Berusaha selagi terdaya. Kan lebih manis berjaya atas usaha sendiri..
Masih lagi ada peluang untuk kembali ke pangkal jalan..

Sedarlah wahai sahabat-sahabat dia, juga bagi dia sebagaimana mereka masih lagi dalam jihad juang menuntut ilmu demi mencapai keredaan dan keberkatan yang hanya dari Rabb mereka yang satu..

* Apa yang dia maksudkan dalam entri ini ialah : " meniru"

(Mode penenang hati : Zikrullah.. berselang nasyid Allahi Allah Kiya Karo : Maher Zain feat Irf)


أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلا
Tidakkah engkau melihat Tuhanmu? Bagaimana Ia menjadikan bayang-bayang itu terbentang, dan jika Ia kehendaki tentulah Ia menjadikannya tetap (tidak bergerak dan tidak berubah)! Kemudian Kami jadikan matahari sebagai tanda yang menunjukkan perubahan bayang-bayang itu.
Al-Qur'an, 025.045 (Al-Furqan


Satu cara yang menjadi kelaziman rakyat negara ini terutamanya jabatan-jabatan mufti negeri melakukan semakan arah kiblat adalah berdasarkan bayang matahari ketika berlaku peristiwa istiwa’ adzam, iaitu kaedah tradisional yang begitu mudah digunakan dan tepat arah kiblat yang ditunjukinya.

Istiwa’ adalah fenomena apabila matahari berada tepat di tepat di titik zenith (tepat di atas) sesuatu tempat ketika pelintasannya di meridian tempat berkenaan. Peristiwa ini akan berlaku dua kali dalam setahun, apabila nilai sudut istiwa matahari bersamaan dengan nilai latitud tempatan. Fenomena ini hanya berlaku bagi negeri-negeri yang latitudnya kurang dari nilai sudut istiwa maksimum matahari iaitu sebanyak 23.5°. Nilai sudut istiwa matahari bersamaan dengan 0° pada 25 Mac setiap tahun, ketika ini pelintasan matahari di meridian bagi negeri-negeri yang terletak di garisan khatulistiwa berlaku tepat di kedudukan zenith.

Berdasarkan keadaan yang sama matahari juga akan mengalami istiwa dengan Kaabah, ketika sudut istiwa matahari sama dengan latitud Kaabah. Ketika ini bayang objek tegak di seluruh dunia akan menunjukkan ke arah Kaabah. Fenomena ini boleh dimanfaatkan untuk menentukan dan menyemak arah kiblat.

Menurut hisab, istiwa matahari di atas Kaabah akan berlaku setiap tahun pada 28 Mei pukul 5.16 petang waktu Malaysia dan sekali lagi pada 16 Julai pukul 5.28 petang.Berdasarkan fenomena ini, umat Islam di Malaysia berpeluang untuk menentukan arah kiblat tempat masing-masing pada masa tersebut. Oleh kerana peristiwa ini berlaku pada waktu petang di Malaysia, maka bayang objek yang panjang ketika ini memudahkan penentuan arah kiblat yang dilakukan.

Kaedah menggunakan bayang matahari pada tarikh dan waktu tersebut adalah kaedah yang paling mudah, tepat, praktikal dan ekonomi. Hanya dirikan tiang yang lurus dengan tegak di tempat lapang yang tidak terlindung dari mendapat cahaya matahari pada petang tersebut. Tandakan dan gariskan bayang tiang pada waktu yang tersebut. Garisan yang menghadap ke pangkal tiang adalah arah kiblat tempat anda.





Jordan ?

Tolak 5 jam dari waktu Malaysia. Kira-kira pukul 12.28 tengah hari.

Matahari sedang tegak di atas kepala. ( Zohor pun tak masuk lagi )

*Guna cara lain la nampaknya..