Pandangan mata selalu menipu,
Pandangan akal selalu terlalu tersalah,
Pandangan nafsu selalu melulu,
Pandangan hati itu yang hakiki,
Kalau hati itu bersih...

Hati kalau terlalu bersih,
Pandangannya kan menembusi hijab
Hati jika sudah bersih, firasatnya tepat kerna Allah,
Tapi hati bila dikotori, bisikannya bukan lagi kebenaran
Hati tempat jatuh nya pandangan Allah,
Jasad lahir tumpuan manusia,
Utamakanlah pandangan Allah dari pandangan Manusia

Saya bukanlah orang yang layak mengupasnya . Kerna ilmu kurang arif, kerna fikir belum cukup kritis lantaran tandusnya pengalaman dan thaqafah. Terkadang buntu. Kerna soal hati siapa yang lebih mengerti.

Tentulah, wahai si empunya diri lebih mengenali akan hakikat insaninya.

Ke bagaimana? Soal hati cukup seronok dibicarakan terutama bila dikaitkan dengan soal cinta, mahabbah dan kasih sayang atau apa-apalah nama yang sewaktu dengannya. Tapi sejauh mana rasa itu membantu kita dalam mencapai matlamat hidup.

Meniti kehidupan sebagai musafir ilmu menyaksikan saya menghadapi berjenis orang yang mempunyai berbagai persoalan dan karenah. Lebih-lebih lagi pelajar agama yang reti hukum-hakam agama. Sudah tahu apa yang halal, apa yang haramnya, tapi tetap seronok bermain tarik tali antara nafsu dan syariat.

Kenapa ya?
Ilmu sudah penuh di dada, mauidzah sudah jenuh dikutip, lalu lelahkah kita mengulitnya kembali menjadi amalan? Atau seronokkah menjadi musuh Allah bernamakan ustaz, mahupun ustazah atau lebih ringan orang yang 'pernah' belajar agama. (saya petik kata-kata seorang sahabat dalam laman webnya, tapi telah diubah mengikut kesesuaian ayat :) mohon izin ya us! ) Tidakkah gentar ketika enak memberi taujih dan mulahazah, sedangkan pada masa yang sama dia kembali melaknat kita.

"Sesungguhnya kesalahan hanya pada orang yang zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa mengendahkan kebenaran. Mereka itulah yang akan memperoleh siksaan yang pedih."
(as-Syura: 42)

Kesal juga pada diri sendiri kerna masih bisu dalam melihat semuanya itu. Lemahnya saya, daifnya diri ini hanya senipis kulit bawang.

Kerna iman senipis itu, memerlukan diri ini membina berjuta-juta sel kekuatan. Memerlukan hati yang bersih untuk mencerna semua khazanah ilmu yang menunggu masa sahaja untuk diterokai.

Lalu Allah dengan penuh sifat Rahimnya, menghamparkan satu wasilah yang tidak pernah terjangka.

Mampukah saya memikul amanah wasilah ini demi untuk meneruskan kesinambungan tarbiah di sini? Di bumi daerah juang ilmu yang saya masih lagi terkapai-kapai menetapkan hala tuju.

Allah memberi hati dan akal untuk mencerna mulahazah. Jangan lupa, iman masih perlu diletak di depan. Tidak cukup akal yang genius untuk mentafsir hukum alam. Perlu berpandu wahyu, kerna akal tidak mampu menggapai apa yang tidak dapat dilihat dengan mata, tidak didengar dengan pendengaran dan tidak dirasa dengan pancaindera.

Semoga kita mampu menjernih kembali kekalutan yang masih bersarang dalam jiwa manusiawi. Mudah-mudahan hati yang bersih dan pemikiran yang jernih dapat menunaskan bunga-bunga kebangkitan, menghapuskan kelesuan umat akibat lemahnya para daie yang bertopengkan ilmu, namun karatnya hati mendiami jiwa.

Ya Tuhan kami jauhkan dan peliharalah kami dari sifat-sifat tercela.

Duhai Teman, Jagalah hati, hiasilah akhlakmu dengan iman taqwa, dan teguhkanlah jiwamu dengan thaqafah dan ilmu.

" Wahai tuhan kami, janganlah engkau palingkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi hidayah petunjuk kepada Kami; sesungguhnya kepada kami, dan kurniakanlah rahmat dari sisiMu, sesungguhnya Engkaulah Maha Memberi"
(Surah Ali-Imran: 8)


Dari 'lyadh bin Himar r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah Ta'ala telah memberikan wahyu kepadaku supaya engkau semua itu bersikap merendahkan diri, sehingga tidak seorangpun yang melanggar aturan terhadap diri orang lain, dan tidak pula seseorang itu membanggakan dirinya kepada orang lain." (Riwayat Muslim) (1)

Ahli lughah berkata: Albaghyu ialah melanggar aturan serta berlagak sombong.

-(1)(Sumber : KitabRiyadussalihin Jilid 2 , Imam Nawawi. hadis bil. 1586. Bab 279, Larangan Berbangga Diri dan Melanggar Aturan, hal. 512. (e-book versi pdf)

0 ulasan: